Saatnya kita menuju tingkat mahir dalam
fotografi bak seorang fotografer profesional. Tulisan ini merupakan
lanjutan dari 2 artikel fotografi sebelumnya. Oh ya, tulisan ini saya
tujukan buat fotografer pemula loh, jadi musti suwon dulu nih ama
fotografer profesional, permisiii… >.<
Pemahaman mengutak-atik exposure triangle adalah
“rahasia besar” keahlian seorang fotografer profesional, untuk kamera
manual maupun digital (kita fokus pada yang digital aja yahh…)
Exposure adalah
jumlah cahaya yang masuk ke dalam medium fotografis kamera (negatif film
pada kamera manual dan sensor gambar pada kamera digital) saat
pengambilan gambar.
Apabila jumlah cahaya yang masuk ke medium fotografis terlalu banyak, foto menjadi terlalu terang istilahnya
overexposure, apabila terlalu sedikit foto menjadi terlalu gelap istilahnya
underexposure, dan apabila foto sesuai dengan yang kita inginkan disebut dengan
optimal exposure.
Exposure Value (EV) adalah angka yang digunakan untuk mengetahui jumlah cahaya yang masuk.

- Underexposure

- Optimal Exposure

- Overexposure
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi sedikit banyaknya jumlah cahaya yang masuk adalah Aperture, Shutter Speed dan ISO. Ketiga-tiganya saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisah-pisahkan sehingga sering disebut dengan Exposure Triangle.

-
- Exposure Triangle
Nah, yang paling kerennya lagi nih,
kalau dah benar-benar nguasain ketiganya, bisa menciptakan foto-foto
tricky yang dahsyat, seperti di bawah ini:

- Irrigation Sprinklers

- Slow Shutter Effect
Untuk menghasilkan foto-foto keq di atas mah butuh kamera digital yang beneran atuuhhh (baca: DSLR Pro) heheheh..
Slow jazz… kalau pembaca benar-benar
minat fotografi, gampang koq memahami ketiga hal ini, saya yakin pembaca
akan memahaminya setelah selesai membaca tulisan ini yang merupakan
pijakan untuk meloncat lebih tinggi ke angkasa dunia fotografi, trust me it works ^,^
Exposure Triangle
1. Aperture
Aperture adalah lubang/lingkaran di bagian depan kamera yang bekerja sama dengan shutter (diapraghma)
untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk pada sensor gambar. Semakin
besar diameter lubangnya semakin besar pula cahaya yang masuk. Selain
mengatur cahaya yang masuk, aperture juga berfungsi untuk mengatur Depth of Field (DoF) (hadehh apa pulak DoF nie…? sabar yaaa.. ^_^).
Simbol ukuran besar kecilnya aperture adalah f-number atau f-stops, semakin besar f-number berarti semakin kecil diameter lubang (gambar 9).
Depth of Field (DoF)
DoF biasanya diterjemahkan
dengan ruang tajam. Maaf, coba ambil pensil atau benda kecil yang lain,
pegang dan letakkan kira-kira 30 cm di depan mata. Sekali lagi maaf
(soalnya saya nyuruh-nyuruh nih >.< ), sekarang belalakkan mata
anda menatap pensil tersebut (kira-kira 3 detik), kemudian picingkan
mata anda sambil terus menatap benda itu.
Saat anda membelalakkan
mata anda “gambar yang terlihat mata” disebut dengan ruang tajam lebar,
dan saat anda memicingkan mata anda gambar yang terlihat disebut ruang
tajam sempit. Saat anda memicingkan mata pensil akan terlihat lebih
tajam atau lebih fokus, ya kan? Nah, itulah yang dimaksud dengan DoF,
gampang memahaminya kan? ^_^

- Pengaruh Aperture pada Depth of Field
Kembali ke laptop…ehh…
kamera, semakin kecil angka f-stops semakin tajam DoF-nya, dan
sebaliknya (gambar10). Background gambar kuda sebelah kiri lebih kabur
daripada gambar yang di sebelah kanan. Trik ini sangat baik untuk foto
close-up dan makro.
2. Shutter Speed
Shutter speed biasanya
diterjemahkan dengan kecepatan rana. Shutter speed berfungsi untuk
mengatur berapa lama sensor gambar terekspos cahaya yang masuk dalam
satuan detik. Trik freez effect (gambar 5 dan 6) menggunakan shutter
speed yang sangat cepat. Gambar bilah helikopter sebelah kiri terlihat
kabur pada shutter speed 1/100 detik, sedangkan gambar sebelah kanan
bilah terlihat seakan-akan berhenti

- Pengaruh Shutter Speed pada Foto
3. ISO
ISO (International Standard
Organization) merupakan istilah yang digunakan untuk menentukan
sensifitas sensor film pada kamera digital. Istilah ini berasal dari
jaman kamera manual untuk menyebutkan sensifitas emulsi kimia film
terhadap cahaya (ASA) dimana satuannya adalah ISO dalam angka tertentu,
ISO 100, 200, 400, 800, 1600, 3200 hingga 6400, tidak tertutup
kemungkinan akan bertambah lagi. Namun istilah ISO masih digunakan
hingga di era digital.
Biasanya pengaturan nilai
ISO digunakan untuk mengoptimalkan exsposure, apabila settingan aperture
dan shutter speed belum memuaskan. Semakin tinggi nilai ISO, semakin
tinggi pula sensifitasnya terhadap cahaya. Sayangnya semakin tinggi
nilainya efek berpasir (grainy) pada gambar semakin jelas (Gambar 12).
Settingan ISO penting dalam fotografi malam, atau objek yang berada di
ruangan/lingkungan yang remang-remang.
Efek Berpasir pada Foto
Ok deh… cara cepat untuk benar-benar memahami ketiganya adalah praktek
langsung. Ketahui tombol-tombol pengatur ketiganya. Catat masing-masing
angka saat pengambilan foto pertama, ubah angka salah satu faktor
misalnya angka ISO, ambil foto, ubah lagi, ambil lagi, demikian
seterusnya untuk faktor aperture dan shutter speed. Jangan lupa
memberikan nama khusus pada tiap-tiap foto sesuai dengan settingan
angka, ntar malah kebingungan heheheh.
Sebenarnya catatan settingan telah
ada pada file-file tersebut yang bisa terlihat pada LCD kamera atau
komputer menggunakan software ACD See atau Photoshop. Kalau memang tau
caranya, berarti gak perlu dicatet dong angka-angkanya saat pengambilan
foto >.<
Kemudian amati angka-angka ketiga faktor
tersebut dan perubahan-perubahan yang terjadi pada hasil foto. Dengan
demikian akan mudah memahami pengaruh masing-masing faktor.